Perbedaan Perspektif secara Ontologi, Aksiologi, dan Epistemologi

Posted in Uncategorized with tags , , , , , , , , on September 24, 2010 by qisthinarani

Perspektif berasal dari kata bahasa Itali “Prospettiva” yang berate “gambar pandangan”. Sedangkan menurut kamus bahasa Inggris, perspektif diartikan sebagai seni menggambar sesuatu yang memberikan kesan jarak dan ukuran. Maka, dapat disimpulkan, perspektif sebagai cara piker seseorang terhadap sesuatu hal yang ada di muka bumi.

Perspektif dikelompokkan menjadi tiga, yaitu perspektif positivism, konstruktivism, dan kritis. Ketiga perspektif tersebut memiliki perbedaan, dilihat dari aspek filsafatnya, dapat dibedakan dengan melihat nilai – nilai kegunaannya (aksiologi), realitas (ontology), dan bagaimana mendapatkan realitas tersebut (epistimologi).

POSITIVISM

Dalam perpektif positivism, komunikasi dilihat proses sebab akibat, dimana komunikasi menganggap bersifat satu arah.

Perbedaan dalam aspek filsafat, perpektif positivism, dibedakan menjadi :

  • Aksiologi

Pengetahuan proposional tentang dunia adalah tujuan dan nilai instrinsik.

  • Ontologi

Realisme naïf; realitas “nyata” tetapi dapat ditangani.

  • Epistimologi

Dualis atau objektifis. Temuan temuan dinyatakan benar.

Konstruktivism

Perspektif konstruktivisme adalah cara pandang yang muncul setelah melalui proses yang cukup lama, yaitu muncul setelah sekian lama (berabad-abad) generasi ilmuan berpegang teguh pada paradigma klasik. Paradigma ini  dikatakan sebagai antitesis dari paradigma positivisme yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu relitas atau ilmu pengetahuan.

  • Ontologi

Paradigme konstruktivisme menyatakan bahwa realitas itu ada dalam bentuk konstruksi mental yang bermacam-macam, berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik, tergantung pada orang yang melakukannya.

  • Epistemologi

Paradigma konstruktivisme bersifat subjektif dan transaksional. Pemahaman tentang suatu realitas atau temuan merupakan suatu produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Dalam mengungkap suatu kebenaran, peneliti dan objek penelitiannya berhubungan secara interaktif, sehingga fenomena dan pola-pola keilmuan dapat dirumuskan dengan memperhatikan gejala hubungan yang terjadi di antara keduanya. Karena itu, hasil rumusan ilmu yang dikembangkan dengan sangat subjektif. Hal tersebut sesuai dengan salah satu kutipan dari pernyataan yang disampaikan oleh Glaser dan Strauss (1967) yaitu going directly to the real world to look what emerges.

  • Aksiologi

Paradigma konstruktivisme menganggap bahwa nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu penelitian. Peneliti di sini bertindak sebagai passionate participant, yaitu fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku social. Di mana tujuan penelitiannya adalah rekonstruksi realitas social secara dialektik antara peneliti dengan aktor social yang diteliti.

KRITIS

Perspektif kritis adalah perspektif yang menilai bahwa sesuatu terjadi karena adanya diskriminasi atau dominasi dari pihak – pihak tertentu terhadap suatu fenomena yang terjadi. Pendekatan Teori Kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni, dan menurut sekolah kritikal, teori kritis itu umumnya anti-positivist dan banyak yang berorientasi pada filosofi (Roger, 1994: 123).

  • Ontologi

Realisme historis; realitas yang terlihat dibentuk oleh nilai – nilai social, politik, cultural, ekonomik, etnik dan gender, terkristalisasi sepanjang waktu.

  • Aksiologi

Pengetahuan proposional transaksional dapat bernilai secara instrumental sebagai alat untuk emansipasi social adalah tujuan dan nilai intrinsic.

  • Epistimologi

Transaksional atau subjektivis; termuan – temuan yang benar terjadi di realitas yang sebenarnya.

Sumber :

–  Makalah “MENELAAH LEBIH JAUH  PARADIGMA KONSTRUKTIVISME” Oleh Meria Octavianti (Mankom – Fikom Unpad)

– Slide perspektif Ilmu Komunikaasi oleh Bapak Roy Rondonuwu (Mankom – Fikom Unpad)

perspektif sosiologi media

Posted in Uncategorized on Maret 14, 2010 by qisthinarani

Terdapat banyak definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi. Ada yang hampir mirip, namun ada juga yang berbeda! Perbedaan-perbedaan yang muncul itu lebih banyak karena fokus perhatian atau titik tolak pembahasannya. Dalam perspektif sosiologi, komunikasi itu mengandung pengertian sebagai suatu proses memindahkan kenyataan-kenyataan, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, reaksi-reaksi emosional, misalnya marah, sedih, gembira atau mungkin kekaguman atau yang menyangkut kesadaran manusia (Sutaryo). Pemindahan tersebut berlangsung antara manusia satu kepada yang lainnya.

Jadi, jelas bagi sosiologi komunikasi itu tidak sekadar berisi informasi yang dipindah-pindahkan dari seseorang kepada yang lainnya, melainkan juga meliputi ungkapan-ungkapan perasaan yang pada umumnya dialami oleh umat manusia yang hidup di dalam masyarakat. Lingkungan komunikasi, setidak-tidaknya mempunyai 3 dimensi, yaitu dimensi fisik, dimensi sosial psikologis, dan dimensi temporal. Ketiga dimensi tersebut sering kali bekerja bersama-sama dan saling berinteraksi, dan mempunyai pengaruh terhadap berlangsungnya komunikasi.
Proses adalah suatu rangkaian aktivitas secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Yang dimaksud dengan kurun waktu tertentu itu memang relatif. Dia bisa pendek, tetapi bisa juga panjang/lama, hal tersebut sangat tergantung dari konteksnya. Proses komunikasi secara primer adalah komunikasi yang dilakukan secara tatap muka, langsung antara seseorang kepada yang lain untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya dengan menggunakan simbol-simbol tertentu, misalnya bahasa, kial, isyarat, warna, bunyi, bahkan bisa juga bau.
Di antara simbol-simbol yang dipergunakan sebagai media dalam berkomunikasi dengan sesamanya, ternyata bahasa merupakan simbol yang paling memadai karena bahasa adalah simbol representatif dari pikiran maupun perasaan manusia. Bahasa juga merupakan simbol yang produktif, kreatif dan terbuka terhadap gagasan-gagasan baru, bahkan mampu mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

Proses komunikasi secara sekunder adalah komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat/sarana sebagai media kedua setelah bahasa. Komunikasi jenis ini dimaksudkan untuk melipatgandakan jumlah penerima informasi sekaligus dapat mengatasi hambatan-hambatan geografis dan waktu. Namun, harap diketahui pula bahwa komunikasi jenis ini hanya efektif untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang bersifat informatif, bukan yang persuasif. Pesan-pesan persuasif hanya efektif dilakukan oleh komunikasi primer/tatap muka.
Umpan balik komunikasi secara sekunder bersifat tertunda (delayed feedback), jadi komunikator tidak akan segera mengetahui bagaimana reaksi atau respons para komunikan. Oleh karena itu, apabila dibutuhkan pengubahan strategi dalam informasi berikutnya tidak akan secepat komunikasi primer atau tatap muka.

Media dalam perspektif sosiologi,  melihat manusia dari sudut pandang sebagai anggota suatu masyarakat. Dimana manusia memiliki peran penting dalam lingkungan masyarakat tempat ia bersosialisasi. Dalam perspektif ini, ada dua jenis, yaitu :

  • Pluralist —-> Liberal
  • Marxist —–> Kritis

Secara sosiologis, masyarakat pluralis berpendapat (berpikir) bahwa setiap manusia memiliki peluang / kesempatan yang sama dalam lingkungan masyarakat. Menurut Curran and Gurevitch (1982),  masyarakat pluralis  memunculkan asumsi-asumsi media, sebagai berikut:

  1. Media menolong atau memberi kesempatan kepada semua orang utnuk menyuarakan pendapat mereka di dalam sebuah forum atau debat.
  2. Media memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dari warga negara untuk melakukan  suatu tindakan.
  3. Media dianggap independen atau terbebas dari ekonomi dan pemerintah.
  4. Media dapat mengontrol pemerintah dan berbagai kelompok kepentingan yang ada di suatu negara.
  5. Informasi hanya dianggap sebagai pengetahuan saja, bukan hasil konstruksi model komunikasi.
  6. Organisasi media dilihat sebagai sistem organisasi yang terkait dan menikmati otonomi yang mereka miliki dari negara, parpol, dan kelompok-kelompok penekan yang melembaga.
  7. Kalangan elit manajerial merupakan kelompok professional  media yang dianggap mempunyai kebebasan untuk menentukan suatu hal.
  8. Khalayak dianggap mampu untuk melihat manipulasi media. Bukan khalayak yang menerima mentah-mentah hal-hal apa saja yang disajikan oleh media.

Hello world!

Posted in Uncategorized on Maret 14, 2010 by qisthinarani

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!