perspektif sosiologi media

Terdapat banyak definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi. Ada yang hampir mirip, namun ada juga yang berbeda! Perbedaan-perbedaan yang muncul itu lebih banyak karena fokus perhatian atau titik tolak pembahasannya. Dalam perspektif sosiologi, komunikasi itu mengandung pengertian sebagai suatu proses memindahkan kenyataan-kenyataan, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, reaksi-reaksi emosional, misalnya marah, sedih, gembira atau mungkin kekaguman atau yang menyangkut kesadaran manusia (Sutaryo). Pemindahan tersebut berlangsung antara manusia satu kepada yang lainnya.

Jadi, jelas bagi sosiologi komunikasi itu tidak sekadar berisi informasi yang dipindah-pindahkan dari seseorang kepada yang lainnya, melainkan juga meliputi ungkapan-ungkapan perasaan yang pada umumnya dialami oleh umat manusia yang hidup di dalam masyarakat. Lingkungan komunikasi, setidak-tidaknya mempunyai 3 dimensi, yaitu dimensi fisik, dimensi sosial psikologis, dan dimensi temporal. Ketiga dimensi tersebut sering kali bekerja bersama-sama dan saling berinteraksi, dan mempunyai pengaruh terhadap berlangsungnya komunikasi.
Proses adalah suatu rangkaian aktivitas secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Yang dimaksud dengan kurun waktu tertentu itu memang relatif. Dia bisa pendek, tetapi bisa juga panjang/lama, hal tersebut sangat tergantung dari konteksnya. Proses komunikasi secara primer adalah komunikasi yang dilakukan secara tatap muka, langsung antara seseorang kepada yang lain untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya dengan menggunakan simbol-simbol tertentu, misalnya bahasa, kial, isyarat, warna, bunyi, bahkan bisa juga bau.
Di antara simbol-simbol yang dipergunakan sebagai media dalam berkomunikasi dengan sesamanya, ternyata bahasa merupakan simbol yang paling memadai karena bahasa adalah simbol representatif dari pikiran maupun perasaan manusia. Bahasa juga merupakan simbol yang produktif, kreatif dan terbuka terhadap gagasan-gagasan baru, bahkan mampu mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

Proses komunikasi secara sekunder adalah komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat/sarana sebagai media kedua setelah bahasa. Komunikasi jenis ini dimaksudkan untuk melipatgandakan jumlah penerima informasi sekaligus dapat mengatasi hambatan-hambatan geografis dan waktu. Namun, harap diketahui pula bahwa komunikasi jenis ini hanya efektif untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang bersifat informatif, bukan yang persuasif. Pesan-pesan persuasif hanya efektif dilakukan oleh komunikasi primer/tatap muka.
Umpan balik komunikasi secara sekunder bersifat tertunda (delayed feedback), jadi komunikator tidak akan segera mengetahui bagaimana reaksi atau respons para komunikan. Oleh karena itu, apabila dibutuhkan pengubahan strategi dalam informasi berikutnya tidak akan secepat komunikasi primer atau tatap muka.

Media dalam perspektif sosiologi,  melihat manusia dari sudut pandang sebagai anggota suatu masyarakat. Dimana manusia memiliki peran penting dalam lingkungan masyarakat tempat ia bersosialisasi. Dalam perspektif ini, ada dua jenis, yaitu :

  • Pluralist —-> Liberal
  • Marxist —–> Kritis

Secara sosiologis, masyarakat pluralis berpendapat (berpikir) bahwa setiap manusia memiliki peluang / kesempatan yang sama dalam lingkungan masyarakat. Menurut Curran and Gurevitch (1982),  masyarakat pluralis  memunculkan asumsi-asumsi media, sebagai berikut:

  1. Media menolong atau memberi kesempatan kepada semua orang utnuk menyuarakan pendapat mereka di dalam sebuah forum atau debat.
  2. Media memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dari warga negara untuk melakukan  suatu tindakan.
  3. Media dianggap independen atau terbebas dari ekonomi dan pemerintah.
  4. Media dapat mengontrol pemerintah dan berbagai kelompok kepentingan yang ada di suatu negara.
  5. Informasi hanya dianggap sebagai pengetahuan saja, bukan hasil konstruksi model komunikasi.
  6. Organisasi media dilihat sebagai sistem organisasi yang terkait dan menikmati otonomi yang mereka miliki dari negara, parpol, dan kelompok-kelompok penekan yang melembaga.
  7. Kalangan elit manajerial merupakan kelompok professional  media yang dianggap mempunyai kebebasan untuk menentukan suatu hal.
  8. Khalayak dianggap mampu untuk melihat manipulasi media. Bukan khalayak yang menerima mentah-mentah hal-hal apa saja yang disajikan oleh media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: